Profile Pesantren

Pendirian Pesantren Modern Madinatussalam sejatinya telah lama menjadi cita-cita para pendiri Yayasan Islam Madinatussalam Pasir Tengah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui langkah strategis dengan mengirimkan putra-putri terbaik mereka untuk menempuh pendidikan di berbagai lembaga unggulan, baik di dalam negeri maupun luar negeri, hingga mencapai jenjang pendidikan tertinggi.

Pada tahun 2015, sebagian dari generasi tersebut mulai kembali ke tanah air. Namun demikian, rencana pendirian pondok pesantren belum dapat direalisasikan pada saat itu karena berbagai pertimbangan. Yayasan kemudian mengarahkan fokusnya pada pelayanan sosial kepada masyarakat, di antaranya melalui pembangunan Sarana Air Bersih (SAB), sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap kesejahteraan lingkungan sekitar.

Momentum penting terjadi pada pertengahan tahun 2024, ketika salah satu pendiri, H. Asep Hamim, wafat. Peristiwa tersebut menjadi titik refleksi sekaligus penguat tekad bagi para pendiri yang masih ada, yaitu H. Ade Muslih dan H. Asep Mabrur, bersama Pengawas Yayasan, KH. Opik Taufikurrahman serta salah satu ketua yayasan, Idad Hasanuddin dan H. E. Hanafiah. Dalam semangat melanjutkan cita-cita luhur, semua sepakat bertekad agar pendirian pondok pesantren—yang sejak awal menjadi tujuan utama—segera direalisasikan.

Selain sebagai wujud komitmen internal, para pendiri juga berkeinginan untuk menunjukkan kepada para muwaqif (pemberi wakaf) bahwa amanah yang telah dititipkan mulai diwujudkan secara nyata dan bertahap. Hal ini menjadi dorongan moral sekaligus tanggung jawab yang terus dijaga dalam setiap langkah pengembangan yayasan.

Sejak saat itu, berbagai pertemuan intensif dalam struktur Yayasan terus dilakukan guna mempercepat terwujudnya pendirian Pesantren Modern Madinatussalam. Upaya tersebut akhirnya mencapai tonggak penting pada bulan Muharram 1446 Hijriah, dengan diresmikannya Pondok Pesantren Madinatussalam yang dirangkaikan dengan pembukaan tahun ajaran baru 2025–2026.

Peresmian ini berlangsung dengan penuh khidmat, dihadiri oleh Ketua MUI Kecamatan Sukaresik (KH. Jono Abdurrahim), tokoh masyarakat, para santri beserta wali mereka, serta warga sekitar. Momentum tersebut menjadi penanda awal perjalanan pesantren dalam menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan Islam, sekaligus bukti nyata bahwa amanah para pendiri dan para muwaqif mulai diwujudkan dalam bentuk yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.